Fanatik? Ekstrim? Waduhh

Hehe.. mungkin ada yg kesindir ama judul ini:) Mungkin dari pihak yang pernah or sering dibilang ’Fanatik’ atau dari pihak yang pernah menyebut temannya ’Fanatik’. Afwannn, ga ada niat nyindir, Cuma pengen sharing aja ko. Ternyata, di sekitar qta ada lho fenomena seperti yg bakalan diceritain di sini. G rame2 amat sih, sederhana, tapi semoga bisa dijadiin perenungan n sama2 dicarikan solusinya. Gimana caranya, mengurangi pengaruh hebat dari kata2 itu dlm menghalangi saudara2 qta yg mau ’hijrah’. Oia, tokoh2 dlm cerita ini semuanya samaran aja yaaaa:)

Ceritanya dimulai dari Dina. Akhirnya Dina berniat memakai ‘jilbab’. Tanda kutip maksudnya, jilbab yang menjulur menutupi dada, ngga transparan, ngga seperti jilbab yang ia kenakan selama ini (istilahnya mah ‘jilbab gaul’). Baju yg lebih longgar, celana2 panjang diganti rok. Jilbab yg biasa dikenakan anggota2 DKM di kampusnya. “Wah anggunnya, salut deh!” ia selalu terkagum2 dlm hati setiap melihat mereka. Ironisnya, ia enggan memakai jilbab spt itu. Alasannya? “Takut dibilang Fanatik,” katanya. Subhanallah, betapa hebat dan besarnya kekuatan kata ’Fanatik’ untuk menghalangi Dina menjalani perintah Allah, berjilbab sesuai sunnah Rasulullah. Tapi Alhamdulillah, setelah melalui perenungan2 n pemikiran2 yg cukup panjang, akhirnya kata itu ngga menghalangi hidayah-Nya. Allah emang Maha Pengasih dan Penyayang:)

Ada lagi. Reina baru bekerja di salah satu perusahaan di Bandung. Ibu Intan, yg juga bekerja di sana, suatu hari bertanya, ”Neng, kok masih muda udah pake jilbab, emangnya ngga mau gaya2an dulu, cantik2an dulu? Disuruh Mama ya?” Reina tersenyum sambil pengen ketawa, ”Engga ko Bu, Justru Reina duluan yg pake jilbab drpd Mama,”

”Oia? Ooo berarti Neng Reina islamnya ’Garis Keras’ ya?” kata Ibu itu lagi dgn polosnya. Gubrakk!!

Next story tentang bersentuhan antara bukan muhrim. Pak Jojon udah nganggep Astuti (sekretarisnya) kaya anak sendiri. Setiap Astuti bikin kesalahan dlm pekerjaan krn ceroboh, awalnya Pak Jojon Cuma nepuk2 kepala Astuti. Dalam hati Astuti selalu menyesal ngebiarin Pak Jojon nepuk2 kepalanya. Juga ketika terpaksa ia harus berjabat tangan dgn Pak Jojon. Karena pikirnya, ’masa ke Bos nolak jabatan tangan?’ Lama2 punggungnya yg ditepuk. Lama2 telinganya yg dijewer. Akhirnya, suatu ketika Pak Jojon mencubit hidungnya! Astaghfirullah. Refleks Astuti menghindar trus bilang, ”Pak, nggak boleh!” sambil dicampur nada2 bercanda. Ia berpikir mungkin ini saatnya utk memberi pemahaman ke Pak Jojon tentang hukum bersentuhan antara bukan muhrim. ”Malah Pak, berjabat tangan juga kan sebenernya nggak boleh, kan bukan muhrim…” Pak Jojon menimpali, ”Ah, kamu, janganlah terlalu kaku,” katanya.

Sekarang cerita soal pacaran. Suatu hari Rendi bertanya, ”Sinta, kamu nggak punya pacar?”

”Insya Allah, Sinta mah pacarannya udah nikah aja,” jawab Sinta.

”Ah, kamu terlalu Fanatik, Sin! Gpp lah pacaran, asal jgn sampe jalan berdua, apalagi zina!”

”Waduh, lagi2 dibilang Fanatik. Ren, Sinta mah bukannya fanatik, Sinta Cuma berusaha berislam secara kaffah, dalam islam kan nggak ada yg namanya pacaran.”

Begitu, saudaraku… Sebenernya masih banyak cerita2 lain ttg Fanatik dan kata2 sebangsanya. Ada apa dengan dunia? Ngga Pacaran dibilang Fanatik, berarti Rasulullah juga fanatik dong? Ngga mau bersentuhan dengan yg bukan muhrim dibilang kaku, berarti Rasulullah kaku dong? Berjilbab sesuai sunnah dibilang Garis Keras, walah!

Afwan lagi, mungkin, ada yg salah dengan cara penyampaiannya. Maksudnya mo cerita gini, nulisnya malah begitu. Wallahu a’lam, segala yg benar dtgnya dari Allah yang meliputi segala sesuatu, dan yg salah dtgnya dr diri ini pribadi. Semoga bisa diambil manfaat dr tulisan ini:) Amin ya Allah…

One Response to “Fanatik? Ekstrim? Waduhh”

  1. Nuraeni Says:

    Aslkm…ukhti…
    emang setiap kita melakukan kebajikan selalu ada ujiannya. Tapi ttg sebagian orang yang punya pemikiran ‘fanatik’ ‘exstrim’ atau apalah…insyaAllah bisa dirubah, artinya kita bisa berusaha ngerubah cara pandang mereka dengan menunjukkan Islam itu Indah,…bahwa kerudung yang baik itu bagaimana,…dan bla..bla…(ukhti pasti lebih faham) dan yang terpenting, sikap kita pada orang lain agar dicontoh,… atau mungkin dengan menunjukkan sikap2 spt sopan santun, ramah, bertutur kata yang baik, dll. bisa menjadikan pemikiran itu sedikit demi sedikit hilang… yah…itu masukan yang pernah nur dapet…di kerjaan kadang menemukan orang dengan berbagai karakter, cara pandang yang berbeda, sulit memang merubah pemikiran seseorang, tapi itulah indahnya Dakwah, yang hanya bisa dirasakan oleh orang2 yang benar2 cinta Allah + Rasul-Nya… ayo sama2 berjuang…berjuang…!!! Moga tetep istiqomah ya ukhti…dimanapun kau berada… Luv U cause Allah..

Leave a Reply